Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Labels

Tampilkan postingan dengan label Info Dinar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Dinar. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Januari 2017

Kado Tahun Baru 2017: Harga-harga Naik, Lawan dengan Dinar

Sahabat Dinar, Daripada kita ikut naik tensi alias naik darah, gara-gara kado awal tahun 2017 (harga-harga naik: BBM, listrik, STNK, cabai, dll), lebih baik lebih baik kita lindungi nilai uang kita dengan cara menabung dinar emas.
Kenap dinar emas? Karena dinar emas sudah terbukti dan teruji dari jaman para pemuda ashabul kahfi sampai saat ini tahan yang namanya inflasi atau turunnya nilai rupiah.
Jangan menunggu esok karena makin lama nilai uang kertas kita semakin tergerus. Uang 100 ribu sekarang mungkin masih cukup buat beli 10 kg beras, tapi tahun besok belum tentu. Bisa jadi cuma bisa dapat 8/9 kg beras. Semua itu karena dampak inflasi. Gaji atau pendapatan kita akan semakin tidak bernilai. 
Sebelum terlambat, dan kita nanti akan merugi, ayo lawan inflasi dengan investasi. Lindungi nilai uang hasil kerja keras kita dengan cara menabung dinar emas. Memang sebagian orang tidak setuju kalau dinar atau emas digolongkan investasi karena pada hakikatnya nilai barangnya tetap sama. Tetapi yakinlah bahwa harga emas 10 tahun yang akan datang pasti jauh berbeda dibanding harga emas tahun ini. Wong harga bubur ayam saja setiap tahun bisa naik. Jadi kalau misalnya kita punya 1 dinar emas sekarang dengan harga 2 juta, maka harga 1 dinar emas 10 tahun yang akan datang bisa jadi sudah mencapai 5 juta. Dan berdasarkan pengalaman nilainya tidak akan di bawah nilai inflasi.
Kita bisa menabung dinar emas untuk keperluan kita di masa depan misalnya pendidikan anak, beli rumah, berangkat ke tanah suci, dll. Sedikit demi sedikit tidak masalah yang penting rutin.

Kamis, 14 Juli 2016

Brexit, Saatnya Kembali ke EMAS (DINAR)

www.globalresearch.ca
Dampak keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau dikenal dengan istilah Brexit (Britain Exit) sudah terasa, mata uang Inggris terjun cukup dalam Begitu pula bursa saham dunia sempat anjlok. Semua karena investor dan pelaku ekonomi ramai-ramai ketakutan. Mereka khawatir ekonomi dunia akan kembali lumpuh setelah krisis 2008 yang terjadi di Amerika Serikat (AS).
Lalu apa yang mereka lakukan saat ketakutan memuncak? Setidaknya ada dua: (1) Mereka akan mencari tempat yang aman untuk investasi, (2) Mereka akan mengalihkan uangnya ke instrument investasi yang dinilai lebih aman.
Jika investor dan pelaku ekonomi memilih langkah pertama, maka negara-negara dengan fundamental ekonomi cukup kuat akan menjadi pilihan, misalnya Cina, India, dan Indonesia. Investor akan berbondong-bondong mengalirkan uangnya ke negara-negara ini.
Jika investor dan pelaku ekonomi tidak cukup yakin dengan langkah pertama, maka bisa dipastikan mereka akan melakukan langkah kedua. Dan ini merupakan pilihan paling realistis saat ekonomi dunia dinilai mengkhawatirkan. Mereka akan mencari instrumen investasi yang dinilai paling aman, yaitu EMAS. Kenapa emas? karena pada dasarnya emas memang sudah memiliki nilai sehingga sangat pantas disebut sebagai safe haven. Belum keuntungan lainnya seperti tahan inflasi dan jumlah yang terbatas.
Bagaimana dengan kita, cukup asyik menjadi penonton dan membiarkan uang hasil jerih payah kerja kita tergerus inflasi dan gonjang-ganjing ekonomi? Tidakkah terpikir untuk mulai merancang masa depan dengan memilih emas (batangan atau koin dinar) sebagai sarana investasi? Ekonomi dunia kacau balaupun, kita tidak akan terlalu khawatir karena ada safe haven (emas) di tangan kita. Lagi pula bagi seorang muslim, dinar (koin emas) sudah terbukti kebenarannya.

Jumat, 02 Maret 2012

DINAR and DIRHAM Fever, Never Ending Story!

Saat kita menyaksikan seorang penyanyi begitu percaya diri memperdengarkan suaranya di hadapan khalayak luas, sebuah tanya bergelanyut di pikiran, kenapa sang penyanyi tampak begitu menikmati perannya, padahal belum tentu semua orang menyukai corak suaranya atau aliran musiknya?

Saat seorang dai (ustadz) begitu tampak bersemangat di dalam menyampaikan dakwahnya di hadapan ribuan atau bahkan jutaan umat, sebuah rasa penasaran muncul, kenapa sang ustadz tampak begitu senang menjalankan perannya, tanpa sedikit pun rasa mengeluh?
Jawabnya adalah keyakinan akan sesuatu. Seorang penyanyi dapat tampil all out karena dia merasa yakin akan kemampuannya. Dia yakin akan kualitas suara emasnya, sehingga tak perlu ada lagi pikiran negatif yang melemahkan. Begitu pula sang ustadz, yang menyakini apa yang disampaikannya adalah ajaran agama yang lurus dan membantu masyarakat mengenalnya adalah anugerah tersendiri. Jadi buat apa mengeluh?
Begitu pula orang-orang yang berusaha membangunkan kembali DINAR dan DIRHAM setelah tidur panjangnya pasca keruntuhan kekhalifahan Islam di Turki. Berbekal keyakinan yang teguh, DINAR emas dan DIRHAM perak adalah bagian dari muamalat dalam syariah Islam, sekaligus mata uang yang lebih adil dan sudah selayaknya mulai menggantikan peran mata uang kertas (fiat money) yang angka nominalnya tak mencerminkan nilai aslinya dan terus tergerus INFLASI, orang-orang ini tidak kenal lelah mengajak masyarakat agar melek DINAR dan DIRHAM.
Bukti bahwa DINAR emas dan DIRHAM perak merupakan bagian dari muamalat dalam Islam termaktub dalam Alqur’an Surat Al-Kahfi ayat 19, yang terjemahannya kurang lebih sbb:
“Dan demikianlah, Kami Bangunkan mereka, agar di antara mereka saling bertanya. Salah seorang di antara mereka berkata, “Sudah berapa lama kamu ada (di sini)?” Mereka menjawab, “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi), “Tuhan-mu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini)”. Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, dan bawalah sebagian makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan jangan sekali-kali menceritakan halmu kepada siapapun”.
Dalam ayat tersebut dinyatakan salah seorang pemuda dalam gua diminta oleh temannya untuk membeli makanan dengan uang perak yang mereka miliki. Hal ini jelas tercermin, uang perak (dirham) merupakan bagian muamalat, bahkan jauh sebelum datangnya agama Islam.
Sementara mengenai penggunaan DINAR (emas), dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari disebutkan,
“Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata: saya mendengar penduduk bercerita tentang ‘Urwah, bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan uang satu DINAR kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau”.
Dengan landasan hukum yang jelas, para penggerak DINAR dan DIRHAM fever (demam) tidak henti-hentinya terus mengajak masyarakat untuk mulai mengalihkan uang kertasnya dalam bentuk DINAR dan DIRHAM. Walaupun DINAR dan DIRHAM saat ini kebanyakan digunakan masih sebatas untuk investasi (store of value), bukan alat tukar (medium of exchange), karena secara resmi mata uang Indonesia adalah rupiah, itu tidak mengapa. Minimal masyarakat sedikit-demi sedikit paham akan keunggulan DINAR dan DIRHAM dibanding uang kertas. Dan menyimpan hasil jerih payah kita dalam berusaha ke dalam bentuk DINAR dan DIRHAM adalah sangat sepadan, karena tabungan DINAR dan DIRHAM kita nilainya tidak sampai dirampok INFLASI, seperti yang berlaku pada uang kertas!
Seorang teman lantas bertanya, “Kenapa saya harus berinvestasi dalam bentuk koin DINAR 22 karat? Bukannya lebih menguntungkan kalau dalam bentuk emas murni 24 karat?”
Sebenarnya jawabannya sederhana, untuk instrument investasi kedua-duanya sama-sama menguntungkan, karena harga yang berlaku mengikuti harga emas dunia yang cenderung terus beranjak naik dari tahun ke tahun. Namun berinvestasi dalam bentuk koin DINAR 22 karat, memiliki satu kelebihan karena DINAR 22 karat adalah bagian dari muamalat di dalam ekonomi Islam, jadi memilikinya berarti kita telah mendorong tegaknya kembali ekonomi syariah, yang jauh lebih unggul dibanding sistem ekonomi kapitalis, karena berlandaskan rasa keadilan, dan tentu itu akan dicatat sebagai salah satu bentuk amal kebaikan.
Dengan semakin meleknya masyarakat terhadap DINAR dan DIRHAM, sangat diharapkan DINAR dan DIRHAM fever terus akan berlanjut, dan menjadi cerita yang tidak akan pernah ada habisnya (never ending story), sampai kemudian ekonomi syariah yang berlandaskan keadilan menjadi tegak kembali di seantero bumi, menggantikan posisi ekonomi kapitalis yang tanda-tanda kejatuhannya sudah mulai terlihat. Aamiin

Selasa, 21 Februari 2012

Haruskah Kaya Dulu, Baru Bisa Punya DINAR Emas?

Beberapa orang ketika saya pancing tentang menabung DINAR emas untuk investasi masa depan, memberikan respon jawaban “Aduh, gimana ya…saya sudah banyak pengeluaran nih! Untuk bayar ini, untuk bayar itu…”. Bahkan ada juga yang berkata, “Wah sudah kaya ya sekarang, menabungnya emas. Hebat-hebat!”

Dari jawaban-jawaban di atas muncul beberapa pertanyaan di benak saya. Benarkah, kita yang pengeluaran per bulannya segunung, sulit menabung DINAR emas? Benarkah menabung DINAR emas mesti kaya dulu? Mari kita bedah lebih dalam.
Seperti kata pepatah, di dunia ini selalu ada keseimbangan. Ketika ada pemasukan pasti ada pula pengeluaran. Yang menjadi pertanyaan, sudahkah kita membuat perencanaan keuangan sebaik-baiknya? Sudahkah kita memilah-milah mana yang benar-benar kebutuhan dan mana yang hanya bentuk keinginan sesaat?

Ambil contoh seperti ini. Ketika kita berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, kita melihat ada sepatu yang menarik. Lalu kita pun tertarik untuk membeli. Nah yang menjadi pertanyaan, benarkah sepatu itu memang sangat kita butuhkan, ataukah hanya karena kita ingin menambah koleksi karena tertarik dengan bentuknya yang lucu? Kalau memang di rumah kita sudah tidak punya sepatu lagi, berarti sepatu yang ada di mall itu masuk kriteria kebutuhan, jadi tidak menjadi masalah untuk memilikinya. Tetapi ketika di rumah ternyata kita masih punya beberapa sepatu sejenis yang masih layak, berarti kita harus segera pergi dari toko itu, dan cukup bilang kepada pelayannya, “Maaf tidak jadi beli, saat ini saya belum perlu dulu”.
Saya yakin, kalau saja kita mampu mengerem keinginan kita untuk pengeluaran yang sifatnya tidak wajib, bahkan sunah pun tidak, maka kita akan mendapatkan kejutan bahwa pos pengeluaran bulanan kita berkurang dan ini berarti kita masih memiliki sedikit uang untuk kita alokasikan bagi simpanan masa depan. Tidak mengapa walaupun misalnya hanya berjumlah 100 ribu/bulan atau pun yang lebih kecil lagi. Segera simpan uang ini di tempat yang kita kesulitan menjangkaunya. Dan anggap uang ini sebagai uang hilang, agar kita tidak tergoda menggunakannya. Dari sedikit demi sedikit tabungan per bulan ini, ketika sudah cukup banyak, segera belikan koin emas DINAR. Kalau sudah berubah dalam bentuk benda, godaan untuk menjualnya kembali akan berkurang, paling-paling kalau butuh uang, ujung-ujungnya menggadaikan hehehe.

Jadi dalam menyiapkan tabungan masa depan dalam bentuk DINAR emas, yang dibutuhkan adalah konsistensi kita untuk mengerem pengeluaran-pengeluaran yang sifatnya untuk memenuhi keinginan sesaat dan mengalokasikannya sedikit demi sedikit ke bentuk DINAR. Kalau sudah demikian, siapapun Anda, apapun jenis pekerjaan Anda, dan berapapun penghasilan Anda, menabung DINAR emas akan bisa Anda lakukan kapanpun juga. Tidak mengapa bukan, kita sedikit berkorban sekarang demi kebaikan di masa depan? Ingatlah, Alloh SWT melarang kita mencetak generasi penerus yang lemah, miskin, dan tak berdaya. Jadi mulai sekarang, mulailah menabung DINAR emas, bukan untuk Anda sendiri tetapi juga untuk kebaikan anak cucu dan umat manusia pada umumnya.

Senin, 20 Februari 2012

Emas Sebagai Pertahanan Terakhir Bangsa

Sebuah fakta tak terbantahkan:
1.    IMF (Dana Moneter Internasional) tidak mengijinkan Indonesia mengkaitkan nilai tukar Rupiah dengan emas (Article 4, section 2.b). Indonesia hanya boleh mengaitkan nilai tukar Rupiahnya dengan US Dollar.
Pelarangan ini jelas merugikan negara-negara pemilik sumber emas seperti Indonesia!
2.    Sebagai anggota IMF, Indonesia harus melaporkan segala aktivitas yang terkait dengan emas, seperti cadangan emas yang dimiliki oleh bank sentral dan bank atau lembaga keuangan lainnya, produksi emas, serta ekspor dan impor emas (Article VIII, Section 5.a) (Sumber: buku Think Dinar!)
Ada apa dengan ini semua? Kalau kita cermati, ini adalah bukti negara-negara besar seperti Amerika Serikat tidak ingin negara-negara pemilik sumber emas memiliki power, karena limpahan emas yang ada di negerinya. Mereka ingin tetap mengontrol dan mengeruk sumber-sumber emas kita dan menyimpannya di berangkas mereka. Buktinya simpanan emas Amerika Serikat mencapai lebih dari 8000 ton (bandingkan dengan Indonesia yang notabene negeri di mana ladang-ladang emas berada, hanya memiliki cadangan emas sekitar 73 ton!).
Melihat fakta ini, sebagai rakyat apa yang seharusnya kita lakukan? Tentu kita harus membalas ketidakadilan mereka dengan cerdik. Mereka memang bisa memonitor kepemilikan emas pemerintah atau bank-bank di negeri ini, tetapi mereka tidak akan mampu mendeteksi seberapa besar jumlah emas yang dimiliki rakyat Indonesia.
Kalau suatu saat sistem ekonomi kapitalis ambruk (tanda-tandanya sudah mulai terlihat), dan negara-negara penimbun emas (Amerika Serikat dan sebagian negara Eropa) masih bisa survive lantaran simpanan emasnya, bagaimana dengan Indonesia? Masih cukupkah hanya dengan mengandalkan 73 ton emas simpanannya?
Sebagai rakyat yang mencintai negeri ini, dan tentunya yang membenci ketidakadilan ekonomi, kita harus mulai mempraktikkan “Silent is Gold = Diam itu emas”, maksudnya secara diam-diam kita turut juga menyimpan emas, sebanyak kemampuan kita untuk menyimpannya. Meskipun menyimpannya sedikit demi sedikit, gram per gram, itu tidak menjadi masalah, karena ini menjadi bukti kecintaan kita kepada negeri ini. Karena emas diyakini sanggup menjadi pertahanan terakhir kita untuk mengamankan masa depan anak cucu kita.
Jika saja, dari sekitar 260 juta penduduk Indonesia, separuhnya saja (sekitar 130 juta penduduk) melakukan hal yang sama, menabung sedikit demi sedikit uang hasil keringatnya dan kemudian dibelikan emas (ingat kalau bisa emas murni 24 karat, bukan dalam bentuk perhiasan) dan melakukannya diam-diam tanpa sepengetahuan negara-negara barat, niscaya kita akan membantu keberlangsungan bangsa ini.
Jika dari 130 juta penduduk, masing-masingnya sanggup menyimpan 1 gram emas per tahun, maka hanya dalam kurun waktu 1 tahun, emas sudah berpindah ke negeri ini sebesar 130 ton (hampir 2 kali lipat cadangan emas yang dimiliki pemerintah Indonesia)! Jika terus berkelanjutan, dalam kurun waktu hanya 5 tahun, cadangan emas di negeri ini sanggup menembus angka 650 ton!
Bagaimana kalau semua berlanjut hingga 10 atau 15 tahun, niscaya, kemandirian suatu bangsa bukan lagi angan-angan tetapi sesuatu yang bakal terwujud tidak lama lagi. Insya Alloh.  

Merancang Masa Depan dengan DINAR Emas

Sebuah pertanyaan seringkali mengemuka, apa sih alasan kita harus memilih DINAR? Apa menabung dengan uang kertas tidak cukup untuk perencanaan masa depan kita?
Jawabannya sederhana, semua berdasarkan fakta lapangan:
1.    Dalam 40 tahun terakhir, uang kertas rupiah setiap tahun nilainya turun berkisar 8%, sementara US Dollar setiap tahun nilainya turun berkisar 5%.
2.    Saat krisis di tahun 1998, inflasi di Indonesia mencapai 78%. Sementara rata-rata inflasi per tahun berkisar 10%. Dengan asumsi inflasi 10%, maka biaya hidup kita 20 tahun mendatang akan melonjak jauh mencapai 573%!
3.    Dalam 40 tahun terakhir, nilai DINAR emas mengalami kenaikan rata-rata 28,73% per tahun terhadap rupiah dan 10,12% per tahun terhadap US Dollar.
4.    Bukti kuat hadist Rasulullah Muhammad SAW bahwa 1 DINAR bisa dibelikan seekor kambing. Ini berlaku sejak 1400 tahun lalu sampai saat ini!
5.    Selama 60 tahun terakhir, daya beli DINAR terhadap minyak adalah tetap (bahkan cenderung lebih tinggi)
(Sumber: Think Dinar!)
Sederetan fakta di atas jangan hanya membuat kita tertegun, tetapi kita harus membuat kita cepat bereaksi. Masa depan tidak lagi bisa kita sandarkan pada uang kertas (fiat/semu). Sudah saatnya kita beralih pada DINAR emas, sebuah mata uang hakiki (mata uang dari langit), mata uang yang terbukti sejak ribuan tahun mampu bertahan terhadap inflasi.
Siapapun Anda dan berapa pun usia Anda, mulailah merancang masa depan berbasis DINAR. Uang penghasilan yang ada dapatkan saat ini dengan penuh kerja keras, jangan sampai menguap begitu saja atau nilainya dari tahun ke tahun terus digerogoti inflasi. Bagaimana nanti dengan nasib anak-anak kita di masa depan saat kita pensiun? Cukupkah uang kertas yang kita tabung menutupi biaya hidup yang semakin mahal?
Jika kita mulai menabung DINAR sedikit demi sedikit dari sekarang, minimal ada dua hal yang akan kita dapatkan:
1.    Kita dapat melindungi harta kita dari gerusan inflasi
2.    Kita dapat mengelola harta kita agar terus tumbuh berkembang (Karena jika menyimpan DINAR sama dengan menyimpan Emas yang nilainya cenderung meningkat setiap tahunnya).

Sejarah UANG di Nusantara, dari DINAR ke RUPIAH (Kembali ke DINAR?)

Benarkah kita hanya mengenal rupiah sebagai alat tukar atau transaksi ekonomi resmi di negeri ini? Ternyata TIDAK! Koin emas DINAR dan perak DIRHAM ternyata juga dikenal baik rakyat di tanah air, bahkan sejak abad ke-6 (jauh sebelum lahirnya rupiah bahkan US Dollar sekalipun).

Dalam buku Ying Yai Sheng Lan karya Ma Huan, sang juru tulis dan penterjemah Laksamana Muslim Cheng Ho dari Cina saat muhibah ke Sumatera Utara (1405 - 1433), disebutkan bahwa mata uang Samudera Pasai adalah Dinar emas dengan kadar 70 persen dan mata uang keueh dari timah (1 Dinar = 1.600 keueh). Pasai telah mencetak Dinar pertamanya pada masa Sultan Muhammad (1297-1326) dengan satuan mas yang sepadan dengan 40 grains atau 2,6 gram.

Pada masa Sultan Ahmad Malik Az-Zahir koin Dinar lebih dikenal sebagai Derham mas, dicetak dalam dua pecahan yaitu Derham dan setengah Derham (1346-1383). Setelah Aceh menaklukkan Pasai (1524) tradisi mencetak Derham mas menyebar ke seluruh Sumatera, bahkan semenanjung Malaka.

Dinar juga dibuat oleh kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan, pertama kali pada tahun 1595, pada masa Sultan Alaudin Awwalul Islam (1593-1639) dengan Dinar seberat 2,46 gram emas. Yang menyebar dari Ternate, Tidore, Minahasa, Butung, Sumbawa, Gowa Talo, bahkan Papua. Koin ini beredar dari tahun 1654-1902.

Di pulau Jawa, Dinar dan Dirham dicetak oleh Kesultanan Mataram pada tahun 1600-an, kemudian oleh VOC sejak tahun 1744 di percetakan uang Batavia yang di desain oleh Theodorus Justinus Rheen. Berdasarkan perjanjian VOC-Mataram, Dinar dicetak seberat 16 gram emas dengan kadar 75 persen dan dinamakan Mahar, sedang Dirham dicetak seberat 6,575 gr dan, dalam sebutan rupiah, dicetak seberat 13,15 gr. Dirham dan rupiah terbuat dari perak dengan kadar 79 persen.

Lalu sejak kapan uang kertas beredar di Indonesia?
Saat menjajah Indonesia, pemerintah Jepang (Dai Nippon) membuat  UU No. 2 tanggal 8 Maret 2602 (tahun Jepang Kooki atau tahun 1942) tentang mata uang. Semua mata uang yang ada digantikan oleh uang kertas Dai Nippon! Ketika Indonesia merdeka, pada tanggal 26 Oktober 1946, Presiden Sukarno dan menteri keuangan saat itu menerbitkan UU No. 19 tentang penerbitan ORI (Oeang Repoeblik Indonesia) dengan dasar 10 rupiah yang sebanding dengan 5 gram emas murni. Uang ini menggantikan uang kertas Dai Nippon.

Namun sayangnya UU No. 19 tersebut pada praktiknya dilanggar sendiri oleh pemerintah kita. Uang rupiah tidak lagi dijamin dengan emas. Harga emas  pada saat ini (tahun 2012), ini bukan lagi Rp 2/gram, tetapi di atas Rp 500.000/gram, yang artinya nilai rupiah kita terjun bebas lebih rendah 250.000 kalinya! (Sumber: wakalanusantara)

Saat ini, koin emas DINAR dan DIRHAM kembali popular, meski masih sebatas untuk sarana investasi dan pelindung nilai harta terhadap gempuran inflasi (belum sepenuhnya dijadikan alat tukar/jual-beli). Sudah sepatutnya hal ini diapresiasi dan didukung dengan baik oleh semua pihak. Karena pada hakikatnya setiap manusia merindukan tegaknya keadilan, dan uang DINAR dan DIRHAM adalah salah satu sarana untuk mencapai keadilan tersebut.

Sabtu, 18 Februari 2012

Uang Kertas, Dulu dan Sekarang!

1.     Tahun 1944 seusai Perang Dunia II, Amerika Serikat (AS) menggagas sebuah pertemuan di Bretton Woods, Hamspire, AS. Pertemuan ini dihadiri 730 wakil dari 44 negara. Pertemuan ini menelurkan sebuah kesepakatan/perjanjian untuk menjalankan sebuah sistem bersama  dimana US dollar berperan sentral dalam sistem moneter dunia.

Dalam perjanjian ini, US dollar (USD) bisa dijadikan cadangan devisa.  Sistem ini menetapkan bahwa untuk setiap pencetakan 35 USD sebanding dengan satu ons emas sebagai back up!

Ini jelas menguntungkan AS, karena dolar Amerika menjadi standar hitungan.

2.     Ketika terjadi perang Vietnam di tahun 1960-an, di mana AS memerlukan banyak biaya, The Fed melakukan tindakan menyalahi aturan (tidak sesuai dengan perjanjian di Bretton Woods tahun 1944). Untuk menutupi biaya militer The Fed mencetak Dolar AS melebihi kemampuan cadangan emasnya! Pada saat itu, Amerika hanya memiliki 22% cadangan emas dari yang seharusnya mereka miliki sebagai back up dolar AS yang telah dikeluarkan!

Pada akhirnya negara-negara sekutu AS merasa dirugikan, karena cadangan devisa mereka dalam bentuk dolar AS ternyata tidak di back up emas sepenuhnya oleh Amerika. Mereka kemudian melakukan aksi penolakan.

3.     Tahun 1965, Presiden ke-5 Perancis, Charles De Gaulle, menelurkan ide untuk menciptakan rezim yang kembali ke emas. Sang presiden memerintahkan Perancis mengkonversi  USD 150 juta dolar AS milik Perancis ke dalam emas.  Aksi ini kemudian diikut oleh Spanyol yang menukarkan kembali  USD 60 juta-nya ke dalam emas. Ini membuat cadangan emas Amerika semakin terkuras!

4.     Peristiwa ini mengawali ketidakberdayaan Amerika mengendalikan keuangannya, jika harus dikaitkan dengan emas. 15 Agustus 1971, Amerika secara sepihak memutuskan untuk tidak lagi memback up dolar Amerika dengan cadangan emas yang mereka miliki. Mereka sudah menyerah dan angkat tangan! Sejak saat inilah, uang kertas tidak lagi memiliki nilai!

5.     15 Desember 1971, sebuah perjanjian ditandatangai negera-negara industri G10 (Smithsonian Agreement). Inilah era berakhirnya perjanian Bretton Woods di mana uang kertas di back up dengan emas. Era ini pulalah yang menjadi embrio lahirnya era FLOATING EXCHANGE RATE yang harus diikuti oleh seluruh negara anggota IMF (badan moneter dunia), termasuk Indonesia. Dalam era FLOATING EXCHANGE RATE, uang dolar AS tidak lagi di back up dengan emas.
Yang tidak menjadi perbedaan antara era sebelum 1971 dan setelah 1971 adalah dolar AS tetap menjadi sentral dalam sistem moneter dunia meskipun tidak lagi diback up dengan emas.
Sejak saat inilah, nilai daya beli mata uang kertas semakin merosot dari tahun ke tahun dan menjadi awal ketidakadilan sistem ekonomi!
Tidak adil karena sebagai pihak yang bisa mencetak dolar AS, Amerika bisa kapan saja mencetak uangnya sesuai dengan kebutuhan mereka tanpa harus memikirkan berapa cadangan emas yang dimiliki. Dan karena seluruh mata uang dunia dikonversi ke mata uang dolar AS, begitu pula harga dari sebuah barang, maka Amerika Serikat menjadi pihak yang paling diuntungkan! Kekayaan sumber daya alam negara-negara di dunia bisa dengan mudah mereka keruk dengan hanya membayar dengan uang kertas dollar AS yang biaya pencetakan per lembarnya HANYA 4 CENTS! Adilkah jika uang yang biaya pembuatannya hanya 4 CENTS bisa berubah 1 DOLLAR, 10 DOLLAR, bahkan 100 DOLLAR AS?
Jika Anda merasa tidak adil, kini saatnya kita mulai mebalikkan keadaan. Mari kita mengawali era kembali ke emas, agar keadilan kembali terwujud. Jika beberapa negara bagian Malaysia sanggup kembali menggunakan uang emas DINAR dan perak DIRHAM, masa INDONESIA tidak bisa?
SUDAH SAATNYA UANG BERBASIS EMAS KEMBALI KITA GUNAKAN AGAR KEADILAN YANG KITA IDAM-IDAMKAN KEMBALI DAPAT KITA RASAKAN. KALAU PUN TIDAK SAAT INI, MUNGKIN ANAK CUCU KITA YANG NANTINYA AKAN MENIKMATINYA!